Senin, 16 Maret 2015
Senin, 05 Januari 2015
Diklat Interaksi Online (DIO).
SURAT EDARAN RESMI
PROGAM DIO (PILOT)
Guru sebagai tenaga profesional memiliki tugas, fungsi dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Agar Guru dapat melaksanakan tugas profesionalnya dalam memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas kepada peserta didik, maka wajib bgi guru untuk selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya secara berkelanjutan sesuai dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam program kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
BPSDMPK PMP Kemdikbud memfasilitasi kegiatan PKB bagi guru melalui sistem Diklat Interaksi Online (DIO). Sebelum DIO diterapkan secara masal di tahun 2015, maka perlu dilakukan ujicoba di beberapa kabupaten/kota mitra P4TK. Pelaksanaan uji coba dimulai 15 s.d 30 Desember 2014.
Manfaat DIO
+ Program DIO berupaya memfasilitasi dan memberi kesempatan seluas-luasnya dengan lebih masif ke seluruh PTK se-Indonesia untuk mengikuti program PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan).
+ Program DIO sebagai media untuk lebih mendorong semangat terhadap peningkatan kemampuan PTK dalam pemanfaatan TIK lebih optimal untuk dunia pendidikan Indonesia.
+ Program DIO akan dibuka di setiap wilayah kab/kota, bilamana sekolah inti (KKG/MGMP) tempat berkumpulnya para peserta DIO dapat dijangkau jaringan internet WifiID sebagai jaminan akses internet cepat dan nyaman untuk para PTK dalam mengikuti program DIO.
+ Program DIO terintegrasi dengan Layanan PADAMU NEGERI untuk menjaga validitas portofolio PTK yang akuntabel dan berkesinambungan. Akses DIO harus menggunakan akun login individu (PegID/NUPTK) masing-masing. Hal ini untuk mendorong kesadaran setiap PTK dalam menjaga dan menggunakan akun loginnya di Padamu Negeri selama ini.
Untuk arsip surat edaran DIO dapat diunduh di:
http://cari.padamu.siap.web.id/statik/pdf/Surat_ke_Disdik.pdf
http://cari.padamu.siap.web.id/statik/pdf/Panduan_Kegiatan_Ujicoba_DIO-Updated_Dian-PB-Oi-WG-16Des.pdf
Kami perkenalkan juga logo program DIO terlampir.
Salam Padamu DIO Indonesiaku
Admin Pusat
BPSDMPK PMP Kemdikbud
Guru sebagai tenaga profesional memiliki tugas, fungsi dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Agar Guru dapat melaksanakan tugas profesionalnya dalam memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas kepada peserta didik, maka wajib bgi guru untuk selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya secara berkelanjutan sesuai dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam program kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
BPSDMPK PMP Kemdikbud memfasilitasi kegiatan PKB bagi guru melalui sistem Diklat Interaksi Online (DIO). Sebelum DIO diterapkan secara masal di tahun 2015, maka perlu dilakukan ujicoba di beberapa kabupaten/kota mitra P4TK. Pelaksanaan uji coba dimulai 15 s.d 30 Desember 2014.
Manfaat DIO
+ Program DIO berupaya memfasilitasi dan memberi kesempatan seluas-luasnya dengan lebih masif ke seluruh PTK se-Indonesia untuk mengikuti program PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan).
+ Program DIO sebagai media untuk lebih mendorong semangat terhadap peningkatan kemampuan PTK dalam pemanfaatan TIK lebih optimal untuk dunia pendidikan Indonesia.
+ Program DIO akan dibuka di setiap wilayah kab/kota, bilamana sekolah inti (KKG/MGMP) tempat berkumpulnya para peserta DIO dapat dijangkau jaringan internet WifiID sebagai jaminan akses internet cepat dan nyaman untuk para PTK dalam mengikuti program DIO.
+ Program DIO terintegrasi dengan Layanan PADAMU NEGERI untuk menjaga validitas portofolio PTK yang akuntabel dan berkesinambungan. Akses DIO harus menggunakan akun login individu (PegID/NUPTK) masing-masing. Hal ini untuk mendorong kesadaran setiap PTK dalam menjaga dan menggunakan akun loginnya di Padamu Negeri selama ini.
Untuk arsip surat edaran DIO dapat diunduh di:
http://cari.padamu.siap.web.id/statik/pdf/Surat_ke_Disdik.pdf
http://cari.padamu.siap.web.id/statik/pdf/Panduan_Kegiatan_Ujicoba_DIO-Updated_Dian-PB-Oi-WG-16Des.pdf
Kami perkenalkan juga logo program DIO terlampir.
Salam Padamu DIO Indonesiaku
Admin Pusat
BPSDMPK PMP Kemdikbud
Sabtu, 03 Januari 2015
VIP-kan guru-guru kita!
VIP-kan Guru-guru
Kita!
Berapa jumlah guru
yang masih hidup?” itu pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di
tanah Jepang.
Kisah itu beredar
luas. Bisa jadi itu mitos, tetapi narasi itu punya konteks yang valid: pemimpin
”Negeri Sakura” itu memikirkan pendidikan sebagai soal amat mendasar untuk
bangkit, menang, dan kuat. Ia sadar bukan alam
yang membuat Jepang menjadi kuat, melainkan kualitas manusianya. Pendidikan
jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral. Pendidikan adalah urusan
mendasar bangsa yang lintas sektoral. Hari ini 53 persen penduduk bekerja kita
hanya tamat SD atau lebih rendah, yang berpendidikan tinggi hanya 9 persen.
Pendidikan bukan sekadar bersekolah, melainkan fakta itu gambaran menampar yang
membuat kita termenung.
Dari sisi kuantitas,
penduduk Indonesia di urutan keempat dunia, tetapi dari segi kualitas di urutan
ke-124 dari 187 negara. Bangsa ini telah secara ”terencana” membuat sebagian
besar penduduknya dicukupkan untuk berlevel pendidikan rendah. Tak aneh jika
kini serba impor karena memang sebagian besar penduduk bekerja kita hanya bisa
menghasilkan produk bernilai tambah yang rendah.
Selama bangsa dan para
pemimpinnya bicara pendidikan secara sambil lalu, dan selama masalah pendidikan
dianggap bukan masalah kepemimpinan nasional, jangan harap masa depan akan bisa
kuat, mandiri, dan berwibawa. Kunci kekuatan bangsa itu pada manusianya. Jangan
hanya fokus pada infrastruktur penopang kehidupan bangsa. Sesungguhya kualitas
infrastruktur kehidupan sebuah bangsa semata-mata cermin kualitas manusianya !
Pendidikan adalah soal
interaksi antarmanusia. Interaksi antara pendidik dan peserta didik, antara
orangtua dan anak, antara guru dan murid, serta antara lingkungan dan para
pembelajar. Guru adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama
kualitas pendidikan.
Berhenti memandang
soal guru sebagai ”sekadar” soalnya kementerian atau sebatas urusan
kepegawaian. Soal guru adalah soal masa depan bangsa. Di ruang kelasnya ada
wajah masa depan Indonesia. Gurulah kelompok yang paling awal tahu potret masa
depan dan gurulah yang bisa membentuk potret masa depan bangsa Indonesia. Cara
sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah cermin cara bangsa memperlakukan
masa depannya!
Ya, penyesuaian
kurikulum itu penting, tetapi lebih penting dan mendesak adalah menyelesaikan
masalah-masalah terkait dengan guru. Guru merupakan ujung tombak. Kurikulum
boleh sangat bagus, tetapi bakal mubazir andai disampaikan oleh guru yang
diimpit sederetan masalah. Tanpa penyelesaian masalah-masalah seputar guru,
kurikulum nyaris tak ada artinya.
Guru juga manusia
biasa, dengan plus-minus sebagai manusia, guru tetap kunci utama. Seorang murid
menyukai pelajaran bukan sekadar karena buku atau kurikulumnya, melainkan
karena gurunya. Guru yang menyebalkan membuat murid menjauhi pelajarannya, guru
yang menyenangkan dan inspiratif membuat murid mencintai pelajarannya.
Kita pasti punya
banyak guru yang dulu mengajar. Ada yang masih diingat dan ada yang terlupakan.
Artinya, setiap guru punya pilihan, mau jadi pendidik yang dikenang karena
inspirasinya atau menjadi pendidik yang terlupakan atau malah diingat karena
perilakunya negatif. Guru harus sadar diri. Ia pegang peran besar, mendasar,
dan jangka panjang sifatnya. Jika seseorang tak mau menjadi pendidik yang baik,
lebih baik berhenti menjadi guru. Terlalu mahal konsekuensi negatifnya bagi
masa depan anak dan masa depan bangsa. Ini statement keras, tetapi para
pendidik dan pengelola pendidikan harus sadar soal ini. Kepada para guru yang
mendidik dengan hati dan sepenuh hati, bangsa ini berutang budi amat besar.
Tiga persoalan besar
Paling tidak ada tiga
persoalan besar mengenai guru kita. Pertama, distribusi penempatan guru tidak merata. Di
satu tempat kelebihan, di tempat lain serba kekurangan. Kekurangan guru juga
terjadi di kota dan di desa yang dekat kota. Ini harus dibereskan. Kedua, kualitas guru yang juga tidak merata. Kita
harus mencurahkan perhatian total untuk meningkatkan kualitas guru. Mudahkan
dan berikan akses bagi guru untuk mengembangkan potensi diri dan kemampuan
mengajar. Bukan sekadar mendapatkan gelar pascasarjana, melainkan soal guru
makin matang dan terbuka luas cakrawalanya.
Ketiga,
kesejahteraan guru tak memadai. Dengan sertifikasi guru telah terjadi perbaikan
kesejahteraan, tetapi ada konsekuensi administratif yang sering justru
merepotkan guru dan perlu dikaji ulang. Selain soal guru honorer, guru bantu
yang masih sering diperlakuan secara tak honored (terhormat). Semua guru harus
dijamin kesejahteraannya.
Melihat kondisi
sebagian besar guru hari ini, kita seharusnya malu. Kita titipkan masa depan
anak-anak kepada guru, tetapi kita tak hendak peduli nasib guru-guru itu. Nasib
anak-anak kita serahkan kepada guru, tetapi nasib guru amat jarang menjadi
perhatian kita, terutama kaum terdidik, yang sudah merasakan manfaat
keterdidikan. Bangsa Indonesia harus berubah. Negara dan bangsa ini harus
menjamin nasib guru.
Menghormati guru
Mari bangun kesadaran
kolosal untuk menghormati-tinggikan guru. Pemerintah harus berperan, tetapi
tanggung jawab besar itu juga ada pada diri kita setiap warga negara, apalagi
kaum terdidik. Karena itu, VIP-kan guru-guru dalam semua urusan!
Guru pantas mendapat
kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa.
Saya ajukan dua ide sederhana menunjukkan rasa hormat kepada guru: jalur negara
dan jalur gerakan masyarakat. Pertama, negara harus memberikan jaminan
kesehatan bagi guru dan keluarganya, tanpa kecuali. Kedua, negara menyediakan
jaminan pendidikan bagi anak- anak guru. Bangsa ini harus malu jika ada guru
yang sudah mengajar 25 tahun, lalu anaknya tak ada ongkos untuk kuliah. Jaminan
kesehatan dan pendidikan keluarganya adalah kebutuhan mendasar bagi guru. Kita
harus mengambil sikap tegas: amankan nasib guru dan keluarganya sehingga guru
bisa dengan tenang mengamankan nasib anak kita.
Di jalur masyarakat,
Gerakan Hormat Guru harus dimulai secara kolosal. Misalnya, para pilot dan awak
pesawat, gurulah yang menjadikanmu bisa ”terbang”, sambutlah mereka sebagai
penumpang VIP di pesawatmu, undang mereka boarding lebih awal. Para dokter dan
semua tenaga medis, gurulah yang mengajarimu sehingga bisa berseragam putih,
sambutlah mereka sebagai VIP di tempatmu merawat. Pada pemerintah dan dunia
usaha di berbagai sektor, semua prestasi yang dikerjakan adalah buah didikan
guru di masa lalu, VIP-kan guru, jadikan mereka customer utama, berikan mereka
kemudahan, berikan mereka diskon. Bukan hanya besaran kemudahan atau diskon,
melainkan ekspresi kepedulian itu yang menjadi bermakna bagi guru.
Dan semua sektor
lainnya, ingatlah bahwa guru merupakan modal awal untuk meraih masa depan yang
lebih baik, lebih sejahtera itu dibangun. Di setiap kata dalam pesan pendek
(sms) yang ditulis, di sana ada tanda pahala guru. Bangsa ini akan tegak dan
disegani saat guru-gurunya terhormat dan dihormati. Bagi anak-anak muda yang
kini berbondong-bondong memilih pendidikan guru, ingat tujuan menjadi guru
bukan cari tingginya rupiah. Anda pilih jalan mulia, menjadi pendidik. Jangan
kemuliaan dikonversi sebatas urusan rupiah, itu cara pintas membuat kemuliaan
alami devaluasi. Kesejahteraan Anda sebagai guru memang harus terjamin, tetapi
biarkan sorot mata anak didik yang tercerahkan atau cium tangan tanda hormat
itu menjadi reward utama yang tak ternilai bagi anda.
Indonesia akan berdiri
makin tegak dan kuat dengan kualitas manusia yang mumpuni. Para guru harus
sadar dan teguhkan diri sebagai pembentuk masa depan Indonesia. Jadilah guru
yang inspiratif, guru yang dicintai semua anak didiknya. Bangsa ini menitipkan
anak-anaknya kepada guru, sebaliknya kita sebangsa harus hormati dan lindungi
guru dari impitan masalah. Ingat, jadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan
kehormatan. Guru dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu
janji kemerdekaan republik ini: mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadikan kami
sebangsa makin bangga dan hormat pada guru!
Dipublikasikan oleh Tata Sumitra pada Selasa, 25 November 2014 dan dibaca
sebanyak : 1077 kali.
Langganan:
Postingan (Atom)
